Rangkuman Materi Motivasi dan Emosi Psikologi Umum 2

 Motivasi dan Emosi

A. Motivasi

Motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu dengan usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi

1. Faktor Motivasi Ektrinsik

Pada faktor ini seseorang melakukan suatu tindakan karena hal tersebut merupakan sesuatu diluar diri orang tersebut. Seperti contoh seseorang bekerja dengan giat karena ingin mendapat kenaikan gaji ataupun jabatan.

2. Faktor Motivasi Intrinsik

Pada faktor ini seseorang melakukan sesuatu hal yang berasal dari dorongan diri sendiri karena menganggap hal tersebut menyenangkan, bermanfaat, dan menantang. Adapun contoh seseorang melukis karena menganggap hal tersebut dapat membuat hati tenang.

Teori-Teori Motivasi

1. Teori Carol Dweck The Self-Theory of Motivation
Teori ini menghubungkan antara kebutuhan untuk berprestasi dengan faktor personal, termasuk pandangan seseorang mengenai bagaimana diri dapat mempengaruhi persepsi seorang individu mengenai keberhasilan ataupun kegagalan tindakannya. Konsep ini berkaitan terhadap locus of control, dimana individu yang meyakini hidupnya dikendalikan oleh dirinya sendiri dianggap sebagai internal dalam locus of control, dan orang yang meyakini hidupnya dikendalikan oleh orang lain, keberuntungan, atau takdir dianggap sebagai eksternal dalam locus of control. Keyakinan yang dimiliki dalam mengendalikan kehidupan individu mengarah lebih pada banyak upaya untuk dicapai bahkan ketika mengalami kegagalan. Hal tersebut dimana individu yang percaya bahwa mereka memiliki sedikit kendali atas apa yang terjadi pada mereka lebih mungkin mengembangkan ketidakberdayaan yang dipelajari dari kegagalan.

2. Pendekatan Insting dan Evolusi (Instincts and The Evolutionary Approach)
Merupakan pemahaman upaya awal yang berfokus pada pola perilaku yang ditentukan secara biologis dan bawaan yang disebut naluri/insting. Seperti contoh hewan yangdiatur oleh insting, seperti migrasi, membangun sarang, melindungi wilayah kekuasaan, para pemegang teori evolusi mengemukakan kemungkinan bahwa manusia juga diatur oleh naluri yang sejenis.

3. Teori Harapan Vroom (Expectancy Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom pada tahun 1964 dalam bukunya yang berjudul “Work and Motivation”. Victor mengemukakan bahwa sebuah Teori Motivasi yang beranggapan bahwa orang-orang termotivasi untuk melakukan sesuatu karena menginginkan suatu hasil yang diharapkan. Teori tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Teori Harapan atau Expectancy Theory. Pada teori ini terdapat tiga konsep yaitu:
  •  Harapan (Expectancy), yaitu kepercayaan seseorang bahwa suatu usaha akanmenghasilkan kinerja tertentu. Effort (Usaha) → Performance (Kinerja).
  •  Instrumentally, yaitu kepercayaan seseorang bahwa suatu kinerja akan mendapatkan hasil tertentu. Performance (Kinerja) → Outcome (Hasil).
  •  Valensi (Valence), mengarah pada nilai positif dan negative yang dirujuk oleh orang-orang terhadap sebuah hasil.
4. Teori McClelland (Psychological Needs)
David C. McClelland merupakan tokoh dari teori Psychological Needs ia mengemukakan sebuah teori terkait motivasi yang mengedepankan tiga kebutuhan psikologis: afiliasi, kekuasaan, dan pencapaian (affiliation, power, and achievement).
  • Kebutuhan psikologis yang pertama adalah need for affiliation (nAff) atau kebutuhan akan interaksi dan hubungan sosial yang bagus. Orang yang memiliki nAff yang tinggi akan berusaha untuk disukai oleh orang lain dan dihormati orang disekitarnya.
  •  Kebutuhan psikologis yang kedua adalah need for power (nPow) atau kebutuhan akan kekuasaan (mengendalikan orang lain). Orang yang memiliki nPow tinggi ingin memberikan pengaruh pada orang lain dan memberi dampak pada mereka.
  •  Kebutuhan psikologis ketiga adalah need for achievement (nAch) atau kebutuhan akan pencapaian/keberhasilan, baik itu tujuan yang realistis maupun yang menantang. Orang yang memiliki nAch tinggi akan mencari karier dan hobi yang memungkinkan orang mengevaluasi dirinya dalam rangka mendapatkan feedback dalam pencapaian tujuannya.
5. Pendekatan Humanistik (Humanistic Approaches) Maslow’s Hierarchy of Needs
Berdasarkan pada Hirarki, Maslow mengemukakan bahwa terdapat beberapa tingkatkebutuhan yang harus diupayakan untuk dipenuhi oleh individu sebelum mencapai tingkat pemenuhan kepribadian yang tertinggi. Menurut Maslow, aktualisasi diriadalah titik yang jarang dicapai di mana individu telah memenuhi kebutuhan yanglebih rendah dan mencapai potensi manusia sepenuhnya.

6. Pendekatan Humanistik (Humanistic Approaches) Self-determination Theory
Teori motivasi lain yang mirip dengan hierarki kebutuhan Maslow adalah teori Ketetapan diri (Self-determination Theory) yang dikemukakan oleh dari Richard danEdward (2000). Dalam teori ini, ada tiga kebutuhan bawaan dan universal yang membantu orang memperoleh pemahaman diri yang lengkap dan hubungan yang utuh dan sehat dengan orang lain. Ketiga kebutuhan tersebut adalah otonomi, atau
kebutuhan untuk mengendalikan perilaku dan tujuan sendiri seperti penentuan nasib, kompetensi, kebutuhan untuk dapat menguasai tugas-tugas yang menantang dalam hidup seseorang dan keterkaitan, atau kebutuhan untuk merasakan rasa memiliki, keintiman, dan keamanan dalam hubungan dengan orang lain.

7. Pendekatan Insentif (Insentive Approach)
Pada pendekatan insentif, tingkah laku dijelaskan dalam bentuk stimulus eksternal dan sifatnya yang bermanfaat. Pendekatan insentif tidak menjelaskan motivasi dibalik semua perilaku. Banyak ahli teori saat ini melihat motivasi sebagai hasil dari "dorongan" kebutuhan atau dorongan internal dan "tarikan" dari stimulus eksternal yang bermanfaat.

B. Emosi

Emosi dapat didefiniskan sebagai aspek “perasaan” dari kesadaran, yang dicirikan oleh tiga elemen yaitu adanya reaksi fisik, perilaku tertentu yang mengungkapkan perasaan ke dunia luar, dan adanya kesadaran batin akan perasaan.

Unsur-Unsur Emosi

1. The Physiology Of Emotion

Secara fisik, ketika seseorang mengalami emosi dan gairah diciptakan oleh system saraf simpatik. Emosi suloit dibedakan satu sama lain jika hanya diliat berdasarkan reaksi fisiologi saja. Namun, di laboraturium menggunakan alat untuk mengukur detak jantung, tekanan darah, dan suhu kulit, para peneliti telah menemukan bahwa emosi yang berbeda dapat dikaitkan dengan reaksi fisiologis yang berbeda.Kesedihan, kemarahan, dan ketakutan dikaitkan dengan peningkatan detak jantung yang lebih besar daripada rasa jijik, karena terjadi peningkatan yang lebih tinggi dalam konduktansi kulit dibandingkan dengan kebahagiaan.Kemarahan lebih sering dikaitkan dengan tindakan vaskular, seperti tekanan darah diastolik yang lebih tinggi, dibandingkan dengan rasa takut 

2. The Behavior Of Emotion: Emotional Exspression

Emosi dapat diekspresikan melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan tindakan yang menunjukkan kepada orang lain bagaimana perasaan seseorang. Kerutan, senyum, dan ekspresi sedih berpadu dengan gerakan tangan, membalikkan badan, dan kata-kata yang diucapkan untuk menghasilkan pemahaman tentang emosi. Orang-orang berkelahi, berlari, mencium, dan berteriak, bersama dengan tindakan lain yang tak terhitung jumlahnya yang berasal dari emosi yang mereka rasakan. Ekspresi wajah dapat bervariasi di berbagai budaya, meskipun beberapa aspek ekspresi wajah tampaknya bersifat universal.Charles Darwin (1898) adalah salah satu orang pertama yang berteori bahwa emosi adalah produk evolusi dan, oleh karena itu, bersifat universal, semua manusia apa pun budayanya akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama. Karena otot-otot wajah berevolusi untuk mengkomunikasikan informasi spesifik kepada penonton. Misalnya, wajah marah akan memberi isyarat kepada penonton bahwa mereka harus bertindak patuh atau mengharapkan pertengkaran. 

3. Subjective Experience: Labeling Emotion

Mempresepsikan perasaan subjektif dengan memberinya label yaitu marah, takut, jijik, bahagia, sedih, malu, tertarik, dan sebagainya. Cara lain untuk melabeli elemen ini adalah dengan menyebutnya “elemen kognitif”, karena proses pelabelan adalah masalah mengingat kembali pengalaman serupa sebelumnya, memahami konteks emosi, dan menemukan solusi. Label yang diterapkan seseorang pada perasaan subjektif setidaknya sebagian merupakan respons yang dipelajari yang dipengaruhi oleh bahasa dan budaya mereka. Label tersebut mungkin berbeda pada orang dari latar belakang budaya yang berbeda. 

Teori-Teori Emosi

1. Common Sense Theory of Emotion

Pada awal lahirnya psikologi, diasumsikan bahwa merasakan emosi tertentu berawal mengarah ke reaksi fisik dan kemudian ke perilaku.Ini disebut dengan common sense theory of emotion (teori emosi yang masuk akal). Contohnya ketika melihat anjing yang menggeram di jalan menyebabkan perasaan takut, yang merangsang tubuh untuk terangsang, diikuti dengan tindakan perilaku berlari. Jadi orang terangsang karena mereka takut. Dalam teori akal sehat emosi, stimulus (snarling dog) mengarah ke emosi ketakutan, yang kemudian mengarah ke gairah tubuh (dalam hal ini, ditunjukkan dengan gemetar) melalui sistem saraf otonom (ANS).

2. James-Lange Theory of Emotion

William James (1884, 1890, 1894),pendiri perspektif fungsionalis dalam sejarah awal psikologi. Tidak setuju dengan sudut pandang akal sehat.Dia percaya bahwa urutan komponen emosi sangat berbeda. Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang ahli fisiologi dan psikolog di Denmark, Carl Lange (1885), mengemukakan penjelasan tentang emosi yang sangat mirip dengan penjelasan James sehingga kedua nama tersebut digunakan bersama untuk merujuk pada teori—theTeori emosi James-Lange. Dalam teori emosi James-lange, stimulus mengarah pada gairah tubuh terlebih dahulu, yang kemudian ditafsirkan sebagai emosi. Dalam teori ini, semacam stimulus (misalnya, anjing besar yang menggeram) menghasilkan reaksi fisiologis.Reaksi ini, yang merupakan kebangkitan sistem saraf simpatik "lawan-ataulari" (ingin lari), menghasilkan sensasi tubuh seperti peningkatan detak jantung, mulut kering, dan pernapasan cepat.James dan Lange percaya bahwa rangsangan fisik menyebabkan pelabelan emosi (ketakutan). 

3. Cannon-Bard Theory of Emotion

Fisiolog Walter Cannon (1927) dan Philip Bard (1934) berteori bahwa emosi dan gairah fisiologis terjadi kurang lebih pada waktu yang sama. Cannon, seorang ahli dalam mekanisme gairah simpatik, tidak merasa bahwa perubahan fisik yang disebabkan oleh berbagai emosi cukup berbeda untuk memungkinkan mereka dianggap sebagai emosi yang berbeda. Bard memperluas gagasan ini dengan menyatakan bahwa informasi sensorik yang masuk ke otak dikirim secara bersamaan (oleh talamus) ke korteks dan organ sistem saraf simpatik. 

2.6.4 Schachter-Singer and Cognitive Arousal Theory of Emotion

Cognitive arousal theory (twofactor theory), Schachter dan Singer (1962) mengusulkan bahwa dua hal harus terjadi sebelum emosi terjadi yaitu gairah fisik dan pelabelan gairah berdasarkan isyarat dari lingkungan sekitarnya. Kedua hal ini terjadi pada saat yang sama, menghasilkan pelabelan emosi. Teori gairah kognitif Schachter dan Singer mirip dengan teori James-lange tetapi menambahkan elemen pelabelan kognitif dari gairah.Dalam teori ini, stimulus mengarah pada gairah tubuh dan pelabelan gairah itu (berdasarkan konteks sekitarnya), yang mengarah pada pengalaman dan pelabelan reaksi emosional.

2.6.5 The Facial Feedback Hypothesis

Charles Darwin menyatakan bahwa ekspresi wajah berkembang sebagai cara untuk mengkomunikasikan maksud, seperti ancaman atau ketakutan, dan bahwa ekspresi ini bersifat universal dalam suatu kelompok daripada khusus dalam suatu budaya. Dia juga percaya (seperti dalam teori James-Lange) bahwa ketika emosi seperti itu diekspresikan secara bebas di wajah, emosi itu sendiri meningkat, artinya semakin banyak orang tersenyum, semakin bahagia perasaan seseorang. Psikolog modern telah mengajukan teori emosi yang konsisten dengan banyak pemikiran asli Darwin. DisebutThe Facial Feedback Hypothesis, penjelasan ini mengasumsikan bahwa ekspresi wajah memberikan umpan balik ke otak tentang emosi yang diungkapkan, yang pada gilirannya tidak hanya mengintensifkan emosi tetapi juga sebenarnya. 

2.6.6 Lazarus and the Cognitive-Mediational Theory

Studi di bagian Psikologi, studi Schachter dan Singer (1962) menekankan pentingnya kognisi, atau berpikir, dalam penentuan emosi.Salah satu versi yang lebih modern dari teori emosi kognitif adalah Lazarus’s cognitive-mediational theory of emotion (1991).Dalam teori ini, aspek terpenting dari setiap pengalaman emosional adalah bagaimana orang tersebut menafsirkan, atau menilai, stimulus yang menyebabkan reaksi emosional.Menengahi arti"come between” dan dalam teori ini penilaian kognitif menengahi datang antara stimulus dan respons emosional terhadap stimulus itu.


Komentar