Rangkuman Materi Kognisi Psikologi Umum 2

 Kognisi

Defenisi

Berpikir atau kognisi (dari kata Latin yang berarti "mengetahui"), dapat didefinisikan
sebagai aktivitas mental yang berlangsung di otak ketika seseorang memproses,
mengorganisir, memahami, dan mengkomunikasikan informasi kepada orang lain
(Ciccarelli & White, 2012).

Bagaimana Orang Berpikir

1. Gambar Mental
Cara kita berpikir dapat menggunakan gambar mental. Gambar mental adalah
representasi untuk objek atau peristiwa yang digunakan dalam aktivitas mental.
Gambar mental berinteraksi dengan cara yang sama seperti objek fisik (misalnya,
memindai peta atau memutar objek). Gambar mental diproses di otak sedikit berbeda
dari objek yang sebenarnya. Gambar mental hanyalah salah satu bentuk representasi
mental. Aspek lain dari proses berpikir adalah penggunaan konsep.
2. Konsep
Dalam pemecahan masalah, konsep menjadi alat yang penting. Konsep adalah gagasan yang mewakili kelas atau kategori hal, peristiwa, atau kegiatan yang dapat berinteraksi dan terorganisir tanpa harus khawatir tentang proses menggambarkan setiap spesifikasi contoh kategori. Konsep dapat mewakili hal-hal yang berbeda di berbagai tingkat objek atau kejadian dan dapat didefinisikan baik secara ketat (formal) atau samar-samar dan berdasarkan pengalaman pribadi (alami). Konsep juga dapat diwakili oleh prototipe, prototipe adalah contoh ideal untuk mendefinisikan sifat karena mereka berbeda sesuai dengan pengalaman pribadi, pengetahuan, dan budaya individu.

3. Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan

Alat mental seperti gambar dan konsep dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Pemecahan masalah terjadi ketika suatu tujuan harus dicapai dengan berpikir dan bertindak dengan cara tertentu. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan
untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan, diantaranya yaitu trial and error, algoritma, dan heuristik.

a) Trial and error

Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan trial and error, atau dikenal juga sebagai solusi mekanis. Mekanisme trial and error mengacu pada mencoba satu solusi demi satu sampai satu berhasil. Misalnya, jika Budi lupa PIN untuk online situs Web perbankannya, dia dapat mencoba satu demi satu kombinasi sampai dia menemukan yang benar, jika dia hanya memiliki beberapa PIN yang biasanya digunakan. Solusi mekanis dapat juga melibatkan pemecahan dengan hafalan, atau seperangkat aturan yang dipelajari. Contohnya adalah bagaimana masalah kata diselesaikan di sekolah dasar. Salah satu jenis solusi hafalan adalah dengan menggunakan algoritma.

b) Algoritma

Algoritma merupakan suatu prosedur yang dilakukan secara langkah demi langkah untuk memecahkan masalah tertentu. Algoritma akan selalu menghasilkan solusi yang benar, jika ada solusi yang tepat ditemukan dan memiliki cukup waktu untuk menemukannya. Contoh pengaplikasian algoritma di kehidupan sehari–hari yaitu saat seorang pustakawan mengatur buku di rak buku, mereka juga menggunakan algoritma seperti saat menempatkan buku dalam urutan abjad dalam setiap kategori, tetapi algoritma tidak selalu praktis untuk digunakan. Misalnya, jika Budi tidak memiliki petunjuk apa empat angka itu, dia mungkin bisa mengetahui PIN yang lupa dengan mencoba semua kemungkinan kombinasi empat digit, 0 hingga 9. Sehingga dapat menemukan kombinasi empat digit yang tepat—tetapi mungkin perlu waktu yang sangat lama.

c) Heuristik

Salah satu cara untuk mempersempit solusi adalah dengan menggunakan heuristik. Heuristik, atau "aturan praktis," adalah aturan sederhana yang dimaksudkan untuk diterapkan pada banyak situasi. Sedangkan algoritma sangat spesifik dan akan selalu mengarah pada solusi, heuristik adalah tebakan berdasarkan pengalaman sebelumnya yang membantu mempersempit kemungkinan solusi untuk sebuah masalah. Misalnya, jika seorang siswa sedang mengetik makalah dalam program pengolah kata dan ingin tahu cara memformat halaman, dia bisa mencoba membaca seluruh manual di program pengolah kata. Itu akan memakan waktu cukup lama. Sebagai gantinya, siswa dapat menggunakan mesin pencari internet atau ketik "format" ke dalam program pencarian fitur bantuan. Melakukan tindakan kedua sangat mengurangi jumlah informasi yang harus dilihat siswa untuk mendapatkan jawaban. Menggunakan fitur bantuan atau mengklik kata toolbar yang sesuai juga akan berfungsi untuk masalah serupa.

Heuristik Keterwakilan

Menggunakan heuristik lebih cepat daripada menggunakan algoritma dalam banyak kasus, tetapi tidak seperti algoritma, heuristik tidak akan selalu mengarah pada solusi yang benar. Misalnya, heuristik keterwakilan digunakan untuk mengkategorikan objek dan hanya mengasumsikan bahwa setiap objek (atau orang) yang memiliki karakteristik yang sama dengan anggota kategori tertentu juga merupakan anggota kategori tersebut. Ini adalah alat yang berguna untuk mengklasifikasikan tanaman tetapi tidak berfungsi dengan baik saat diterapkan ke orang-orang. Heuristik keterwakilan dapat menyebabkan kesalahan karena mengabaikan tarif dasar, probabilitas sebenarnya dari suatu kejadian tertentu. Heuristik keterwakilan dapat digunakan atau disalahgunakan untuk membuat dan mempertahankan stereotip (Kahneman & Tversky, 1973; Kahneman et al., 1982). Seperti stereotip “Semua orang dengan kulit gelap berasal dari Afrika”.

Ketersediaan Heuristik

Heuristik lain yang dapat memiliki hasil yang tidak diinginkan adalah heuristik ketersediaan, yang didasarkan pada perkiraan kami tentang frekuensi atau kemungkinan peristiwa berdasarkan seberapa mudahnya mengingat informasi yang relevan dari ingatan atau seberapa mudahnya bagi kita untuk memikirkan contoh terkait (Tversky & Kahneman, 1973). 

Bekerja Mundur

Sebuah heuristik berguna yang tidak bekerja banyak waktu adalah bekerjamundur dari tujuan. Misalnya, jika Anda ingin mencari rute tercepat ke kedaikopi baru di kota, Anda sudah tahu tujuannya, yaitu menemukan kedai kopi.Mungkin ada beberapa rute dari rumah Anda, beberapa di antaranya lebihpendek dari yang lain. Dengan asumsi Anda memiliki alamat toko, pilihan paling sederhana bagi banyak orang untuk menghitung rute tercepat adalah dengan menemukan bisnis di peta Internet, GPS, atau smartphone, kemudian membandingkan rute alternatif berdasarkan moda transportasi (berjalan versus mengemudi).

Sub Tujuan

Seringkali lebih disukai untuk membagi sebuah tujuan menjadi sub tujuan, sehingga ketika setiap sub tujuan selesai, solusi akhir adalah yang paling dekat. Misalnya dalam menulis makalah, mungkin tampak menakutkan sampai dipecah menjadi beberapa langkah: memilih topik, meneliti topik, menyusun apa yang telah dikumpulkan, menulis satu per satu, dan seterusnya. Contoh lain dari heuristik yaitu membuat diagram untuk membantu mengatur informasi mengenai masalah atau kemungkinan pengujian solusi untuk masalah satu per satu dan mengeliminasi yang tidak berhasil.

a) Insight

Karya Köhler (1925) dengan Sultan si simpanse, yang menunjukkan bahwa bahkan beberapa hewan dapat memecahkan masalah dengan cara tiba-tiba. Pada manusia, wawasan sering kali berbentuk “ah!” momen— solusi tampaknya datang dalam sekejap. Seseorang mungkin menyadari bahwa masalah ini mirip dengan yang lain yang dia sudah tahu bagaimana menyelesaikannya atau mungkin melihat suatu objek yang dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda dari aslinya, seperti menggunakan uang receh sebagai obeng. Ringkasnya, berpikir adalah proses kompleks yang melibatkan penggunaan gambaran mental dan berbagai macam konsep untuk mengatur peristiwa kehidupan sehari-hari. Pemecahan masalah adalah gaya berpikir yang melibatkan penggunaan beberapa metode untuk memecahkan berbagai macam masalah, seperti berpikir trial and error, algoritma, dan heuristik.

b) Masalah dengan pemecahan masalah

Tidak selalu mungkin untuk mengatasi masalah dengan menggunakan wawasan. Terkadang solusi untuk suatu masalah hanya "di luar jangkauan" karena bagian-bagian masalah tidak disusun dengan benar atau karena orang terjebak dalam cara berpikir tertentu yang bertindak sebagai penghalang untuk memecahkan masalah. Cara berpikir seperti itu terjadi kurang lebih secara otomatis, mempengaruhi upaya untuk memecahkan masalah tanpa kesadaran akan pengaruh itu. Tiga dari hambatan yang paling umum untuk pemecahan masalah yang sukses adalah ketetapan fungsional, perangkat mental, dan bias konfirmasi.

Ketetapan Fungsional

Salah satu kesulitan pemecahan masalah melibatkan pemikiran tentang objek hanya dalam hal kegunaan khasnya, yang merupakan fenomena yang disebut kemapanan fungsional (secara harfiah, "tetap pada fungsi"). Misalnya ada beberapa objek yang dekat yang bisa digunakan untuk mengencangkan sekrup seperti pisau mentega, kunci, atau bahkan uang receh di saku. Karena kecenderungan memikirkan benda-benda itu dalam hal memasak, membuka kunci, dan menghabiskan, kita terkadang mengabaikan kemungkinan penggunaan yang kurang jelas. Masalah string diperkenalkan sebelumnya adalah contoh keteguhan fungsional. Sepasang tang sering dianggap tidak berguna sampai orang tersebut menyadari bahwa itu dapat digunakan sebagai beban.

Perangkat Mental

Ketetapan fungsional sebenarnya adalah sejenis perangkat mental, yang didefinisikan sebagai kecenderungan orang untuk bertahan dalam menggunakan pola pemecahan masalah yang telah bekerja untuk mereka di masa lalu. Solusi yang berhasil di masa lalu cenderung menjadi solusi orang mencoba terlebih dahulu, dan orang sering ragu-ragu atau bahkan tidak dapat memikirkan kemungkinan lain.

Konfirmasi Bias

Hambatan lain untuk pengambilan keputusan yang efektif atau pemecahan masalah adalah bias konfirmasi, kecenderungan untuk mencari bukti yang sesuai dengan keyakinan seseorang saat mengabaikan bukti yang bertentangan. Ini mirip dengan set mental, kecuali bahwa apa adalah "set" adalah keyakinan daripada metode pemecahan masalah. Orang yang percaya pada ESP cenderung ingat beberapa penelitian yang tampaknya mendukung keyakinan dan prediksi psikis mereka yang berhasil, sementara pada saat yang sama "melupakan" kasus-kasus di mana penelitian ditemukan tidak ada bukti atau paranormal membuat prediksi yang gagal menjadi kenyataan. Mereka hanya ingat yang menegaskan bias mereka terhadap keyakinan akan keberadaan ESP. Contoh lain adalah orang yang percaya bahwa mereka adalah multitasker yang baik dan dapat dengan aman mengendarai kendaraan bermotor sambil berbicara atau mengirim SMS di ponsel mereka mungkin cenderung mengingat pengalaman pribadi mereka sendiri, yang mungkin tidak termasuk kecelakaan kendaraan atau “nyaris celaka” (yang mereka sadari).

4. Kreativitas

Kreativitas merupakan proses memecahkan masalah dengan menggabungkan ide- ide atau cara-cara baru. Karena tidak setiap masalah dapat dijawab dengan menggunakan informasi yang sudah ada dalam menerapkan informasi tersebut. Terkadang sebuah masalah membutuhkan penyelesaian cara yang sama sekali baru dalam melihat masalah atau solusi inventif yang tidak biasa. Berpikir konvergen adalah jenis pemikiran di mana masalah terlihat hanya memiliki satu jawaban, dan semua garis pemikiran pada akhirnya akan mengarah pada jawaban tunggal itu, menggunakan pengetahuan dan logika sebelumnya. Berpikir divergen adalah kebalikan dari berpikir konvergen. Di sini seseorang mulai di satu titik dan muncul dengan banyak ide atau kemungkinan yang berbeda, atau berbeda, berdasarkan pada titik itu (Finke, 1995). Misalnya, jika seseorang mengajukan pertanyaan, “Apa itu? pensil digunakan untuk?” jawaban konvergennya adalah "menulis." Tetapi jika pertanyaannya diajukan dengan cara ini: “Berapa banyak kegunaan berbeda yang dapat Anda pikirkan untuk sebuah pensil?” jawabannya berlipat ganda: “menulis, melubangi, pemberat untuk ekor layang-layang, senjata.” Pemikiran divergen tidak hanya dikaitkan dengan kreativitas tetapi juga kecerdasan (Guilford, 1967).

Teori, pengukuran, dan perbedaan kecerdasan individu

1. Teori Kecerdasan

a) Spearman’s G Factor
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman, Ia melihat kecerdasan itu sebagai
dua kemampuan yang berbeda. Untuk kecerdasan umum yaitu kemampuan untuk
bernalar dan memecahkan masalah diberi label faktor g, sedangkan untuk
kecerdasan spesifik yaitu kemampuan khusus di bidang tertentu seperti music,
bisnis atau seni diberi label faktor s. Tes IQ tradisional kemungkinan besar akan
mungkin menggunakan label fakfor g, tetapi Spearman bercaya bahwa
keunggulan dalam satu jenis kecerdasan memprediksi keunggulan secara
keseluruhan. Meskipun beberapa penelitian awalnya menemukan beberapa
dukungan untuk intelligence, peniliti lain merasa bahwa Spearman terlalu
menyederhanakan konsep kecerdasan.

b) Gardner’s Multiple Intelligence
Ahli teori selanjutnya yang mengusulkan mengenai keberadaan kecerdasan ialah
Ganda Gardner. Meskipun banyak orang menggunakan istilah akal, logika, dan
penetahuan seolah-olah mereka adalah kemampuan yang sama, Gardner percaya
bahwa mereka adalah aspek kecerdasan yang berbeda, bersama dengan
kemampuan lainnya. Gardner mengutarakan ada 9 jenis kecerdasan, yaitu verbal,
musik, logika matematika, visual, pergerakan, interpersonal, intrapersonal,
naturalis, dan eksistensialis.
Ide kecerdasan ganda memiliki daya Tarik yang besar, terutama bagi para
pendidik. Namun, beberapa berpendapat bahwa ada beberapa studi ilmiah yang
memberikan bukti untuk konsep kecerdasan gansa (Waterhouse, 2006a, 2006b),
sementara yang lain berpendapat bahwa bukti itu ada (Gardner & Moran, 2006).
Beberapa kritikus menguslkan bahwa kecerdasan tersebut tidak lebih dari
kemampuan yang berbeda dan bahwa kemampuan tersebut tidak selalu sama
denga napa yang biasanya dimaksud dengan kecerdasan (Hunt, 2001)

c) Sternberg’s Triarchic Theory
Teori ini merupakan teori tiga jenis kecerdasan oleh Sternberg, teori ini mirip
dengan teori Aristoteles yang mengatakan bahwa kecerdasan tersusun dari aspek
teoretis, produktif, dan praktis. Dalam teori Stenberg ketiga aspek itu adalah
analitis, kreatif, dan praktis.
- Kecerdasan analitik mengacu kepada kemampuan untuk memecahkan
masalah menjadi bagian-bagian, atau analisis untuk pemecahan
masalah.Ini merupakan jenis kecerdasan yang biasa diukur dengan tes
kecerdasan dan tes prestasi akademik.
- Kecerdasan kreatif adalah kemampuan untuk menghadapi hal-hal baru
dalam konsep yang berbeda dan menemukan cara baru dalam pemecahan
masalahnya.
- Kecerdasan praktis merupakan kemampuan untuk menggunakan informasi
untuk bergaul dalam kehidupan. Kecerdasan praktis sering disebut juga
kecerdasan jalanan. Orang tang tinggi kecerdasan praktisnya tahu
bagaimana menjadi bijaksana, bagaimana memanipulasi situasi untuk
memperoleh keuntungan, dan bagaimana menggunakan informasi orang
dalam untuk peluang keberhasilan mereka.

2. Pengukuran Kecerdasan

Pengukuran kecerdasan dilakukan dengan beberapa jenis tes, diantaranya :
a) Binet’s Mental Ability Test
Pada masa awal itu, seorang psikolog Prancis Bernama Alfred Binet diminta
oleh Kementrian Pendidikan Prancis untuk merancang tes formal kecerdasan
tes kemampuan mental intel yang akan membantu mengidentifikasi anak-anak
yang tidak dapat belajar secepat atau sebaik yang lain. Sehingga mereka dapat
diberikan Pendidikan remedial. Akhirnya Ia dan rekannyaTheodore Simon
membuat tes yang tidak hanya membedakan antara pelajar cepat dan lambat,
tetapi juga antara anak-anak dari kelompok usia yang berbeda (Binet &Simon,
1916). Mereka memperhatikan bahwa pembelajaran yang cepat tampaknya
memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin diberikan oleh anak yang
lebih besar, sedangkan pembelajaran yang lambat memberikan jawaban yang
lebih tidak jelas dari anak yang lebih muda. Binet memutuskan ahwa elemen
kunci yang akan diuji adalah usia mental anak, atau usia rata-rata dimana
anak-anak dapat berhasil menjawab tingkat pertanyaan tertentu.

b) Standford-Binet and IQ
Seorang peneliti di Universitas Stanford yang Bernama Terman mengadopsi
metode psikolog Jerman William Stern untuk membandingkan usia mental
dan usia kronologis untuk digunakan dengan terjemahan dan revisi tes binet.
Rumus Stern (1912) adalah membagi usia mental (MA) dengan kronologi usia
(CA) dan dikalikan dengan 100 untuk menghilangkan decimal. Skor yang
dihasilkan disebut Intelligent Quotient atau IQ.
IQ = MA/CA X 100
Contoh : Jika seorang anak berusia 10 tahun mengikuti tes dan mendapat skor
mental yang baik dari anak 15 tahun, maka IG akan terlihat seperti ini :
IQ = 15/10 X 100 = 150
Jadi, seorang anak tersebut memiliki IQ 150.

c) The Wechsler Test
David Wechsler adalah orang pertama yang merancang serangkaian tes yang
dirancang untuk kelompok usia tertentu (juga diberikan kepada individu,
bukan hanya kelompok, seperti Stanford-Binet). Awalnya tidak puas dengan
fakta bahwa Stanford-Binet dirancang untuk anak-anak tetapi diberikan
kepada orang dewasa, Ia menembangkan melalui tes IQ khusus untuk orang
dewasa. Ia kemudian merancang tes khusus untuk yang lebih tua dari anak-
anak usia sekolah dan anak-anak pra sekolah serta mereka yang berada di
kelas awal. Skala Kecerdasan Dewasa Wechlser (WAIS-IV), Skala
Kecerdasan untuk anak-anak (WISC-IV), dan Skala Kecerdasan pra sekolah
dan skala utama (WPPSI-III) adalah tiga versi dari tes ini. Di Amerika Serikat
saat ini tes ini lebih sering digunakan daripada Stanford-Binnet.

3. Perbedaan Kecerdasan Individu

Tes IQ bermanfaat untuk mengidentifikasi individu yang berbeda secara signifikan
dari mereka yang memiliki kecerdasan rata-rata.
a) Keterlambatan Perkembangan
Kondisi keterlambatan perkembangan dimana perilaku dan keterampilan
kognitif seseorang ada pada tahap perkembangan sebelumnya daripada
keterampilan orang lain yang memiliki usia kronologisyang sama (Smith &
Mitchell, 2001). Istilah ini sering juga disebut keterbelakangan mental.
Kondisi ini didefinisikan dalam beberapa cara. Pertama, skor IQ seseorang
dibawah 70, atau standar deviasi dibawah rata-rata pada kurva normal. Kedua,
perilaku adaptif seseorang (keterampilan mengobrol memungkinkan orang
untuk hidup mandiri, seperti mampu bekerja di suatu pekerjaan, kemampuan
berkomunikasi yang baik dengan orang lain, dan keterampilan seperti mampu
berpakaian, makan, dan mandi tanpa bantuan) adalah sangat dibawah tingkat
yang sesuai untuk orang tersebut. Batasan ini hadir sebelum seseorang
berumus 18 tahun. Diagnosis keterbelakangan mental menurut American on
Intellectual and Developmental Disabilities Guidelines (AAID) (2007), tidak
hanya bergantung pada skor IQ saja tetapi juga pada kekuatan dan kelemahan
seseorang dalam empat bidang.
· Keterampilan perilaku ntelektual dan adaptif. Kemampuan seseorang
untuk menggunakan Bahasa, membaca, menulis, kemampuan
memahami, keterampilan sosial seperti mengikuti aturan dan
bertanggung jawab, dan perilaku adaptif lainnya seperti pekerjaan dan
keterampilan kebersihan harus dinilai.
· Pertimbangan psikologis dan emosional. Ciri-ciri kepribadian dan
tingkat kematangan emosi bervariasi pada orang yang mengalami
keterlambatan perkembangan. Seseorang yang memiliki kepribadian
yang santai, misalnya, mungkin lebih menerima rekomendasi
perawatan dan kesempatan pendidikan yang berbeda dari seseorang
yang sangat cemas atau temperamental.
· Pertimbangan fisik dan Kesehatan. Ketika keterbelakangan adalah
hasil dari kondisi fisik seperti kekurangan gizi yang parah,
dimungkinkan untuk memperbaiki keterampilan intelektual dan
perilaku seseorang melalui intervensi.
· Pertimbangan lingkungan. Intervensi juga dapat dilakukan di beberapa
bentuk keterbelakangan yang merupakan akibat dari paparan kondisi
hidup yang tidak sehat yang dapat mempengaruhi perkembangan otak.
Keterbelakangan mental tidak hanya disebabkan oleh faktor lingkungan, tetapi
juga banyak faktor lainnya. Seperti faktor biologis, tiga faktor biologis paling
umum yang menyebabkan keterbelakangan mental adalah Down Sindrom,
sindrom alcohol tetal, dan sindrom x rapuh. Selain faktor biologis,
kekuarangan oksigen saat lahir, kerusakan janin dalam kandungan akibat
penyakit dan infeksi, dan bahkan penyakit dan kecelakaan semasa kanak-
kanak dapat menyebabkan keterbelakangan mental.

b) Bakat
Orang-orang yang memiliki IQ diatas rata-rata atau di atas 130 disebut dengan
orang yang berbakat. Jika IQ seseorang lebih dari 140, Ia akan disebut jenius.
Temuan awal studi besar (Terman & Oden, 1947) menunjukkan bahwa orang-
orang yang berbakat secara sosial dapat menyesuaikan diri dengan baik dan
seringkali menjadi pemimpin yang terampil. Mereka juga memiliki tinggi,
berat, dan daya Tarik fisik di atas rata-rata, mengakhiri mitos tentang
kejeniusan yang lemah. Terman mampu menunjukkan tidak hanya bahwa
anak-anak berbakatnya tidak lebih rentan terhadap penyakit mental daripada
populasi umum, tetapi dia juga mampu menunjukkan bahwa mereka
sebenarnya lebih tahan terhadap penyakit mental daripada mereka yang
memiliki kecerdasan rata-rata. Hanya mereka dengan IQ tertinggi (180 ke
atas) yang ditemukan memiliki beberapa masalah penyesuaian sosial dan
perilaku sebagai anak-anak (Janos, 1987).

c) Kecerdasan Emosional
Konsep kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan oleh Salovey dan
Mayer (1990) dan kemudian oleh Goleman (1995). Goleman mengusulkan
kecerdasan emosional adalah pengaruh yang lebih kuat pada kesuksesan
dalam hidup daripada pandangan tradisional tentang kecerdasan. Seseorang
yang cerdas secara emosional memiliki kemampuan mengontrol emosi seperti
kemarahan, implusif, dan kecemasan. Empati, kemampuan untuk memahami
apa yang dirasakan oleh orang lain, juga merupakan komponen, seperti
kesadaran akan emosi diri sendiri, kepekaan, ketekunan bahkan dalam
menghadapi frustasi, dan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (Salovey
& Mayer, 1990). Salovey dan Mayer melakukan sebuah penelitian kepada 321
partisipan untuk membaca bagian yang ditulis oleh nonpartisipan dan
mencoba menebak apa yang nonpartisipan rasakan saat mereka menulis.
Asumsinya orang yang pandai menghubungkan pikiran dengan perasaan juga
akan memiliki tingkat empati dan kecerdasan emosional yang tinggi.

D. Bahasa

Bahasa merupakan media yang digunakan dalam berkomunikasi antara satu
individu dengan individu lainnya atau suatu kelompok masyarakat. Menurut
Ciccarelli dan White (2008), bahasa adalah suatu sistem yang mengkombinasikan
simbol dengan tujuan berkomunikasi. Bahasa merupakan media yang digunakan oleh
suatu kelompok masyarakat untuk dapat bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasi diri (Kridalaksana dan Kentjono, 2014).

1. Analisis Tingkat Bahasa

Seluruh struktur bahasa yang ada di dunia memiliki karakteristik yang serupa.
Bahasa melibatkan susunan kata, makna kata, aturan dalam pembentukan kata, aturan
mengenai penggunaan kata dalam suatu komunikasi, dan makna dari kalimat atau
frase.

a. Grammar
Grammar merupakan suatu aturan mengenai struktur serta penggunaan
bahasa. Grammar mencakup aturan sintaksis, morfem, fonem, dan pragmatis

b. Syntax
Syntax merupakan aturan penggabungan kata dan frasa untuk
menghasilkan kalimat yang sesuai dengan tata bahasa atau grammar. Syntax
digunakan untuk menghindari kesalahpahaman dalam suatu kalimat.

c. Morphemes
Morphemes merupakan bagian terkecil dari suatu kata yang memiliki
makna. Morphemes sendiri diatur oleh semantics atau pemaknaan bahasa.
Dalam suatu kalimat memiliki kemungkinan memiliki makna yang sama
namun syntax yang berbeda.

d. Phonemes
Phonemes merupakan bagian dasar bunyi dari suatu bahasa. Setiap
bahasa memiliki phonemes yang berbeda-beda. Oleh karena itu terkadang
didapati kesulitan dalam mengucapkan maupun mendengarkan pelafalan dari
suatu bahasa.

e. Pragmatics
Pragmatics merupakan aspek dalam bahasa sebagai cara praktis untuk
dapat berkomunikasi dengan individu lain. Hal ini meliputi aturan dalam
berkomunikasi baik dengan yang lebih muda maupun dengan yang lebih tua,
penggunaan bahasa tubuh dan intonasi yang digunakan

2. Keterkaitan Bahasa dengan Pikiran

Beberapa ahli yang telah memaparkan mengenai keterkaitan antara bahasa dan
pikiran, diantaranya sebagai berikut:

a. Teori Jean Piaget
Dalam teorinya, yakni konsep yang mendahului dan membantu
perkembangan bahasa Piaget menjelaskan bahwa seorang anak memiliki
konsep “Ibu” sebelum dapat mengucapkan kata “Ibu”. selain itu, Piaget juga
menyadari bahwa setiap anak prasekolah sepertinya menghabiskan banyak
waktu untuk berbicara pada dirinya sendiri, bahkan ketika mereka sedang
bermain bersama anak lainnya. Setiap anak berbicara mengenai suatu hal yang
tidak memiliki keterkaitan dengan ucapan lainnya yang disebut collective
monologue.
Menurut Piaget, bahasa dikendalikan oleh nalar, perkembangan bahasa
harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar dan umum di dalam
kognisi (Purwo, 1990). Piaget juga menjelaskan bahwa struktur bahasa
bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam maupun dipelajari dari lingkungan.
Namun, struktur bahasa timbul karena interaksi yang dilakukan individu
secara terus menerus dengan individu lainnya yang kemudian meningkatkan
fungsi kognitif.

b. Teori L.S Vygotsky
Dalam teorinya, Vygotsky berpendapat bahwa bahasa membantu
dalam konsep perkembangan dan membantu anak dalam kontrol terhadap
kebiasaannya (Ciccarelli dan White, 2008). Menurutnya, kata yang membantu
pembentukan dari suatu konsep seperti ketika seorang anak memiliki konsep
“Ibu” dalam pikirannya itu membentuk gambaran kasih sayang, kelembutan,
dan keamanan yang diberikan oleh sang Ibu.

c. Teori Sapir-Whorf
Dalam teorinya Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf berpendapat
bahwa manusia sangat bergantung pada bahasa.
Mereka menjelaskan hipotesis mengenai keterkaitan bahasa dengan pikiran
yakni hipotesis linguistic relativity hypothesis yang menjelaskan perbedaan
dalam menggunakan bahasa akan mempengaruhi cara berpikir yang dimiliki
oleh individu.


Komentar