Rangkuman Psium 2 Sensasi dan Persepsi
Sensasi dan Persepsi
Sensasi
Sensasi Habituasi dan Adaptasi
Ilmu Tentang Melihat
Berhubungan dengan sifat psikologisnya, terdapat tiga persepsi mengenai cahaya yaitu:
1. Kecerahan
(Brightness), kecerahan ditentukan oleh amplitudo gelombang dan seberapa
tinggi atau rendahnya gelombang. Semakin tinggi gelombang maka semakin terang
cahaya dan sebaliknya.
2. Warna
atau Rona (Color atau Hue), warna ditentukan oleh panjang
gelombang. Panjang gelombang pendek ditemukan pada ujung biru spektrum tampak
sedangkan pada panjang gelombang yang lebih panjang dapat ditemukan pada ujung
merah.
3. Kejenuhan (Saturation), kejenuhan mengarah pada kemurnian warna yang dilihat. Contohnya pada merah yang sangat jenuh akan mengandung panjang gelombang merah sedangkan pada merah yang kurang jenuh akan mengandung campuran pada panjang gelombang.
Stuktur Mata
Struktur mata
manusia terdiri dari kornea yang merupakan selaput bening yang melapisi
permukaan mata. Kornea berfungsi sebagai pelindung mata dan juga sebagai
struktur yang memfokuskan cahaya yang masuk ke mata, disamping itu kornea juga
memiliki kelengkungan yang tetap. Struktur mata berikutnya yaitu aqueous
humor, yaitu cairan bening berair yang memasok makanan pada mata.
Selanjutnya terdapat iris yang berfungsi untuk mengubah ukuran pupil, mengatur
cahaya yang masuk ke mata, dan juga memfokuskan mata.
Di belakang iris
terdapat lensa yang berfungsi dalam menyelesaikan proses pemfokusan pada mata
disebut juga sebagai akomodasi visual. Akomodasi visual merupakan perubahan
ketebalan lensa pada saat mata fokus pada objek yang dekat maupun jauh. Setelah
melewati lensa terdapat humor kaca yang berupa ruang terbuka yang berisi cairan
bening seperti jeli.
Struktur mata
selanjutnya yaitu retina yang berfungsi untuk menyerap dan memproses informasi
cahaya. Sel kerucut (cone) dan sel batang (rod) menerima foton
cahaya kemudian mengubahnya menjadi sinyal saraf pada otak. Sel kerucut
berfungsi untuk ketajaman visual. Sel kerucut terletak di fovea yang
berjumlah 6 juta sel. Sel kerucut bekerja pada cahaya terang dan peka terhadap
panjang gelombang cahaya yang berbeda, oleh karena itu sel kerucut berfungsi
pada penglihatan warna.
Sel batang
terdapat pada retina kecuali pada bagian fovea dan berjumlah sekitar 100
juta sel. Sel batang sangat peka terhadap perubahan kecerahan. Namun, sel
batang tidak peka terhadap panjang gelombang, sehingga menyebabkan sel batang
hanya dapat melihat warna hitam, putih, dan abu-abu. Sel batang sangat sensitif
karena banyak sel batang yang terhubung ke satu sel bipolar. Sel batang
berfungsi untuk penglihat tepi dikarenakan sel batang terletak di pinggir
retina.
Persepsi Warna
a. Teori
Trikromatik
Teori trikromatik
merupakan teori yang mengusulkan tiga tipe sel kerucut, yaitu sel kerucut
merah, sel kerucut biru, dan sel kerucut hijau, masing-masing dari ketiga warna
itu merupakan warna dasar dari cahaya. Teori trikromatik pertama kali diusulkan
oleh Thomas Young pada tahun 1802 dan setalah itu dimodifikasi oleh Hermann von
Helmholtz di tahun 1852. Pada teori trikromatik jenis warna yang berbeda sesuai
dengan jumlah cahaya yang berbeda yang diterima dari masing-masing jenis sel
kerucut.setelah itu sel kerucut akan mengirimkan pesan ke pusat penglihatan di
otak dan kombinasi dari sel kerucut serta laju tembakannya yang akan menentukan
warna yang akan dilihat.
Paul K. Brown dan
George Wald (1964) mengidentifikasi tiga jenis sel kerucut pada retina, setiap
sel kerucut sensitif pada rentang panjang gelombang dan diukur dalam satuan
nanometer (nm), sensitivitas puncak sesuai dengan tiga warna berbeda. Warna
biru-ungu dideteksi sel kerucut dengan panjang gelombang pendek (sekitar 420
nm), Sedangkan warna hijau dideteksi sel kerucut dengan panjang gelombang
medium (sekitar 530 nm), dan warna hijau-kuning dideteksi sel kerucut dengan panjang
gelombang panjang (sekitar 560 nm). Namun, tidak terdapat sel kerucut yang
diidentifikasi oleh Brown dan Wald dengan kepekaan puncak (630 nm) terhadap
cahaya yaitu warna merah. Setiap sel kerucut merespons cahaya di berbagai
panjang gelombang, bukan hanya panjang gelombang sensitivitas puncaknya. Tergantung
pada intensitas cahaya.
b. Teori Opponent-Process
Fenomena afterimage
warna dijelaskan oleh teori opponent-process, berdasarkan ide yang pertama kali
dikemukakan oleh Edwald Hering pada tahun 1874. Pada teori opponent-process, terdapat
empat warna primer: merah, hijau, biru, dan kuning. Warna disusun berpasangan, dengan
masing-masing anggota pasangan sebagai lawan. Merah dipasangkan dengan lawannya
hijau dan biru dipasangkan dengan lawannya kuning. Jika salah satu anggota dari
suatu pasangan dirangsang dengan kuat, anggota yang lain dihambat dan tidak
dapat bekerja—sehingga tidak ada warna hijau kemerahan atau kuning kebiruan.
Pasangan warna ini
dapat menyebabkan bayangan karena pada tingkat sel bipolar dan ganglion di
retina, sepanjang thalamus, dan ke area kortikal visual di otak, beberapa
neuron (atau kelompok neuron) dirangsang oleh cahaya dari satu bagian spektrum
visual. dan dihambat oleh cahaya dari bagian spektrum yang berbeda. Selain sel
bipolar dan ganglion retina, sel opponent-process terkandung di dalam talamus
di area yang disebut nukleus genikulatum lateral (LGN). Saat sel kerucut di
retina mengirim sinyal melalui sel bipolar dan ganglion retina, kita melihat
pasangan merah versus hijau dan pasangan biru versus kuning. Bersama dengan
sel-sel retina, sel-sel di LGN bertanggung jawab atas pemrosesan lawan
penglihatan warna dan efek bayangan.
Buta Warna
Indra Pendengaran
Gelombang
suara merupakan getaran molekul udara yang berada disekitar kita. Di dalam
gelombang suara juga terdapat amplitudo, panjang gelombang, dan kemurnian atau
purity. Amplitudo dapat diartikan sebagai volume yaitu seberapa lembut atau
kerasnya suara tersebut. Panjang gelombang dapat diartikan sebagai frekuensi
dari suara tersebut. Manusia di dunia jarang mendengar suara yang murni,
suara-suara lain yang berada disekitar manusia menyebabkan manusia tidak dapat
mendengarkan nada yang murni. Terdapat batasan jangkauan frekuensi yang dapat
manusia dengar. Manusia dapat mendengar suara dengan batasan 20-20.000 Hz.
Struktur dari telinga yaitu:
a. Telinga bagian luar
Pada
telinga bagian luar, terdapat pinna atau yang biasa disebut dengan daun
telinga. Daun telinga mempunyai peranan untuk menyalurkan gelombang suara
menuju ke bagian dalam dari telinga.
b. Telinga bagian tengah
Telinga
bagian tengah tersusun atas 3 tulang kecil yaitu tulang martil, landasan, dan
sanggurdi. Getaran dari ketiga tulang tersebut dapat memperkuat getaran dari
gendang telinga.
c. Telinga bagian
dalam
Telinga bagian dalam adalah struktur yang berbentuk seperti siput yangdisebut dengan koklea yang berisikan cairan. Pada telinga bagian dalam terdapat jendela oval yang jika bergetar dapat menyebabkan cairan dalam koklea bergetar.
Pitch
Pitch
atau nada merujuk pada tinggi atau rendahnya suara. Tiga teori utama pada
perceiving pitch yaitu:
a. Place theory
Pada
teori ini dikatakan bahwa nada yang dapat didengar oleh manusia tergantung pada
sel-sel rambut mana yang terangsang pada organ corti. Sebagai contoh yaitu jika
seseorang mendengar suara yang bernada tinggi semua sel-sel rambut yang berada
dekat dengan jendela oval akan mendapatkan rangsangan dan jika seseorang
mendengar suara bernada rendah semua sel-sel rambut yang mendapat rangsangan
terletak jauh dari organ corti.
b. Frequency
Theory
Pada
teori ini dikatakan bahwa pitch atau nada berhubungan dengan seberapa cepat
membran basilar bergetar. Semakin lambat membran basilar bergetar maka semakin
rendah nadanya, semakin cepat membran basilar bergetar maka semakin tinggi pula
nadanya.
c. Volley
Principle
Teori
ini muncul untuk nada dari jangkauan 400 Hz sampai dengan 4.000 Hz. Dalam
penjelasan ini, kelompok neuron pendengaran bergiliran menembak dalam proses
yang disebut tendangan voli. Jika seseorang mendengar nada sekitar 3.000 Hz,
itu berarti bahwa tiga kelompok neuron telah bergiliran mengirim pesan ke otak.
kelompok pertama untuk 1.000 Hz pertama, kelompok kedua untuk 1.000 Hz
berikutnya, dan seterusnya.
Gangguan Pendengaran
Gangguan
pendengaran adalah masalah yang terjadi pada indra telinga, terdapat beberapa
jenis gangguan telinga yaitu:
a. Conduction
Hearing Impairment
Gangguan
pendengaran konduksi merupakan gangguan yang terjadi pada telinga bagian luar
atau telinga bagian tengah. Getaran suara tidak dapat diteruskan dari gendang
telinga ke koklea. Penyebab dari hal tersebut yaitu terdapat kerusakan pada
gendang telinga atau pada tulang telinga tengah. Alat bantu dengar merupakan
solusi untuk mengatasi gangguan ini.
b. Nerve
Hearing Impairment
Gangguan
ini terjadi pada telinga bagian dalam atau pada jalur pendengaran dan kortikal
area otak. Gangguan ini merupakan gangguan yang paling umum terjadi. Gangguan
ini disebablan oleh infeksi atau sering mendengar suara-suara yang sangat
keras. Paparan yang terlalu lama terhadap suara yang keras dapat mengakibatkan
kerusakan permanen pada telinga. Karena kerusakannya pada saraf atau otak,
gangguan pendengaran saraf biasanya tidak dapat dibantu dengan alat bantu
dengar biasa. Teknik untuk memulihkan pendengaran bagi mereka dengan gangguan
pendengaran saraf yaitu dengan memanfaatkan perangkat elektronik yang disebut
implan koklea.
Indra Pengecap
Taste
buds adalah jenis neuron
khusus yang memiliki sel reseptor rasa dan biasanya ditemukan di dalam mulut
yang bertanggung jawab sebagai indera perasa atau pengecapan. Sensitivitas
seseorang terhadap selera orang tersebut tergantung dengan indera perasa yang
mereka miliki. Seorang "supertaster" membutuhkan bumbu yang lebih
sedikit dari orang biasa dalam makanan mereka.
Pada
indera pengecap yaitu lidah, terdapat benjolan-benjolan yang disebut dengan
papila yang dindingnya dilapisi oleh pengecap. Pengecap memiliki 20 reseptor,
pada setiap reseptor menerima molekul berbagai macam zat yang masuk. Ketika
molekul tersebut dilarutkan dalam air liur, kemudian masuk ke dalam reseptor,
sebuah sinyal dikirimkan ke otak yang selanjutnya diartikan sebagai rasa.
Reseptor rasa bekerja secara terus-menerus dan harus diganti setiap 10 sampai
14 hari, jadi ketika lidah terbakar, maka reseptor rasa tersebut akan rusak dan
diganti menjadi reseptor yang baru.
The
five basic tastes. Pada tahun 1916,
Hans Henning, seorang psikolog Jerman mengatakan bahwa ada 4 jenis rasa utama,
yaitu manis, asam, asin dan pahit. Ada juga rasa kelima yaitu rasa
"kaldu" yang disebut sebagai rasa umami, yang digagas oleh Lindemann.
Meskipun peneliti dulu percaya bahwa rasa tertentu terletak pada tempat tertentu di lidah, tapi sekarang sudah ditemukan bahwa semua sensasi rasa tersebut diproses pada seluruh lidah dan informasinya diteruskan ke otak
Indra Penciuman
Indera
penciuman sama dengan indera pengecap, yaitu sama-sama indera kimiawi. Indera
penciuman ini adalah hidung yang berfungsi untuk mencium bau. Sistem penciuman
ini mencium bau-bauan, kemudian mengubahnya menjadi sinyal yang kemudian
diteruskan dan dapat dipahami oleh otak. Bagian yang mengubah atau
mentransduksi bau menjadi sinyal terdapat pada bagian atas saluran hidung. Area
sel reseptor tersebut hanya memiliki panjang sekitar satu inci, namun setiap
saluran rongganya memiliki sekitar 10 juta reseptor penciuman.
Olfactory
receptor cells. Masing-masing sel
reseptor ini memiliki sekitar setengah sampai selusin rambut yang disebut
dengan silia yang menonjol ke bagian dalam. Pada silia ini terdapat reseptor
yang dapat mengirimkan sinyal ke otak yang distimulasi oleh molekul zat yang
ada di udara.
The
olfactory bulbs. Bagian ini
terletak pada cavum sinus pada setiap sisi otak. Reseptor penciuman mengirimkan
sinyal melalui bagian ini, kemudian diteruskan ke thalamus, yaitu pusat dari
penyampaian semua informasi sensorik.
Indra Kulit
Kulit adalah organ
yang berfungsi menerima dan mengantarkan informasi dari dunia luar ke sitem
saraf pusat. Ada banyak macam reseptor yang berada pada lapisan-lapisan kulit.
Beberapa dari reseptor tersebut hanya merespon pada satu macam sensasi. Ada
reseptor yang merespon pada perubahan tekanan, terhadap sentuhan, terhadap
perubahan temperatur (panas atau dingin), dan terhadap rasa sakit.
Ada berbagai macam
tipe rasa sakit. Rasa sakit (dan tekanan) yang dirasakan pada organ dalam
disebut visceral pain. Rasa sakit
yang dirasakan pada kulit, otot, dan sendi disebut somatic pain. Somatic pain adalah peringatan yang diberikan oleh
tubuh ketika ada sesuatu yang akan atau sedang rusak dan biasanya berlangsung
cepat dan terasa tajam.
Penjelasan tentang
bagaimana sensasi dari rasa sakit bekerja disebut gate control theory of pain, yang diciptakan dan dijelaskan oleh
Ronald Melzack dan Patrick Wall. Teorinya adalah bahwa sinyal rasa sakit harus
melewati sebuah “gerbang” yang terletak pada sumsung tulang belakang. Gerbang
ini dapat tertutup apabila menerima sinyal yang bukan merupakan sinyal rasa
sakit dari tubuh dan sinyal yang berasal dari otak. Gerbang ini bukan suatu
struktur fisik melainkan sesuatu yang melambangkan keseimbangan relatif dari
aktivitas saraf pada sumsum tulang belakang. Ketika reseptor rasa sakit
menerima informasi, maka ia akan melepaskan sebuah neuromodulator yang disebut substance p. Substance p yang dilepaskan
ke sumsum tulang belakang mengaktifkan neuron lainnya, yang mengantarkan pesan
tersebut ke gerbang. Dari sumsum tulang belakang, pesan itu tiba ke otak,
mengaktifkan sel-sel di thalamus, korteks somatosensori, beberapa area di lobus
frontal, dan sistem limbik. Otak kemudian memproses pesan tersebut dan
mengirimkan sinyal yang akan membuka gerbang lebih luas (memperkuat rasa sakit)
atau menutup gerbang (mengurangi rasa sakit).
Indra Kinestetik
Reseptor yang
merupakan bagian dari indra kinestetik terletak pada otot, tendon, dan
persendian. Reseptor-reseptor ini menyediakan informasi tentang pergerakan
tubuh dan lokasi dari bagian tubuh yang bergerak. Contohnya ketika seseorang
menutup matanya dan mengangkat tangan atau mengayunkan kakinya, ia tetap bisa
tahu dimana letak tangan dan kakinya karena adanya reseptor-reseptor tersebut.
Indra Vestibular
Kata vestibular
berasal dari bahasa latin yang berarti “pintu masuk” atau “kamar”. Struktur
dari indra ini terletak pada bagian terdalam telinga. Terdapat dua jenis organ
vestibular, yaitu organ otolith dan kanal semisirkularis (saluran setengah
lingkaran).
Organ otolith
adalah kantung-kantung kecil yang terletak persis di atas koklea.
Kantung-kantung tersebut mengandung cairan seperti gelatin dimana
kristal-kristal kecil tergantung. Ketika kepala seseorang bergerak,
kristal-kristal tersebut menyebabkan cairan di dalam kantung bergetar. Getaran
cairan tersebut merangsang reseptor berbentuk rambut-rambut kecil yang terletak
di bagian dalam permukaan kantung, yang membuat manusia mengetahui bahwa ia
sedang bergerak maju, mundur, ke samping, ke atas, atau ke bawah.
Kanal
semiserkularis adalah tiga buah tabung yang memiliki bentuk seperti lingkaran
dan berisi cairan. Cairan di dalam tabung tersebut akan merangsang reseptor
yang berbentuk seperti rambut ketika berputar. Ketika seseorang berputar
kemudian tiba-tiba berhenti, ia akan merasa pusing. Hal ini disebabkan cairan
pada kanal horizontal yang belum berhenti berputar. Tubuh mengatakan bahwa kita
masih bergerak sementara mata mengatakan bahwa kita sudah berhenti. Kanal
horizontal juga membantu manusia untuk menavigasi lingkungan sekitar dan
mengetahui arah manusia sedang menghadap.
Persepsi
Merupakan suatu
proses di mana otak menerima seluruh sensasi yang dirasakan manusia pada saat
tertentu yang kemudian diintepretasikan atau diberi makna. Persepsi dapat juga
diartikan sebagai sebuah proses mental dimana sensasi ditata menjadi suatu pola
yang bermakna. Persepsi dipengaruhi oleh individualitas. Misalnya, ketika dua
orang melihat awan yang sama, tetapi orang pertama menganggap awan itu
berbentuk seperti kuda sedangkan yang lain berpikir awan itu lebih seperti
sapi.
Prinsip Gestalt
Prinsip Gestalt
cenderung mengelompokan objek ke dalam beberapa kelompok dan mempersepsikannya
sebagai suatu bentuk. Dalam prinsip Gestalt, terdapat beberapa jenis
pengelompokan yang dikenal dengan sebutan Gestalt Principles of Grouping yang
terdiri atas :
a. Proximity (Nearness)
Merupakan
kecenderungan untuk melihat objek yang terletak dekat antara satu sama lain
sebagai satu kelompok. Jadi, semua stimulus yang dekat satu sama lain cenderung
dikelompokkan bersama (Kubovy & Holcombe, 1998)
b. Similarity
Similarity
merujuk kepada kecenderungan untuk melihat dua objek yang memiliki kemiripan
sebagai bagian dari kelompok yang sama. Kemiripan atau kesamaan ini bisa
dilihat dari ukuran, bentuk, ataupun warna. Contohnya ketika dua marching band
yang tampil bersebelahan. Jika mereka memiliki seragam dengan warna yang sama,
maka orang-orang akan menganggap bahwa mereka berasal dari satu kelompok besar.
Tetapi jika tidak, maka orang-orang akan menganggap mereka berasal dari dua
kelompok yang berbeda.
c. Closure
Closure
merupakan kecenderungan sesaorang untuk melengkapi gambar yang belum sempurna.
Contohnya dapat dilihat pada ilustrasi di bawah. Masing-masing gambar memiliki
bagian kosong, tetapi kita tetap melihatnya sebagai suatu bentuk yang utuh.
d. Continuity
Contiunuity
adalah sebuah kecenderungan untuk melihat suatu objek sesederhana mungkin
sebagai suatu pola yang berkelanjutan dibandingkan sebagai suatu objek kompleks
yang di pisah menjadi beberapa pola.
e. Common Region
Comon region
merupakan kecenderungan yang menganggap objek yang berada pada area yang sama
sebagai satu kelompok.
f. Contiguity
Contiguity
tidak hanya menyangkut kedekatan jarak, tetapi juga waktu. Contoguinity adalah
kecenderungan untuk melihat dua kejadian yang terjadi dalam waktu yang
berdekatan sebagai dua hal yang berkaitan. Biasanya pada contiguinity, kejadian
pertama dianggap sebagai penyebab terjadi kejadian kedua.
Kedalaman Persepsi
Kemampuan untuk melihat
dunia dalam tiga dimensi disebut dengan depth perceptions. Depth perception
sangat dibutuhkan, karena tanpa kemampuan ini kita akan mengalami kesulitan
dalam menentukan seberapa jauh posisi suatu objek. Depth perception bukan
merupakan kemampuan yang dibawa dari lahir, tapi kemampuan ini diperkiran
terbentuk ketika kita masih bayi.
Dalam penggunaan
depth perception, dibagi menjadi dua jenis yaitu monocular cues (penglihatan
dengan satu mata) dan binocular cues (penglihatan dengan dua mata).
Monocular cues
juga sering disebut dengan pictorial depth cues karena banyak seniman
menggunakan isyarat ini untuk memberi ilusi kedalaman pada gambar ataupun
lukisan. Monocular cues terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain :
a. Linear Perspective
Merupakan kecenderungan untuk melihat garis paralel seakan-akan menyatu satu sama lain. Contohnya ketika kita melihat jalan raya yang panjang, kedua sisi dari jalan tersebut seakan-akan menyatu jika terlihat dari kejauhan.
b. Relative Size
Ketika suatu objek yang diharapkan memiliki ukuran tertentu ternyata berukuran kecil, maka orang-orang akan beranggapan bahwa objek itu terletak pada jarak yang jauh. Prinsip ini banyak digunakan pada pembuatan film, salah satunya pada Star Wars. Hal ini dilakukan dengan mengubah secara cepat ukuran dari planet, space station, dan roket pada film ntuk memberi ilusi sensasi kedalaman pada film ini.
c. Overlap (Interposition)
Ketika suatu objek
terlihat seperti menutupi objek lain, orang akan cenderung berasumsi bahwa objek
yang tertutup terletak di bagian belakang dan lebih jauh dibanding objek yang
pertama.
d. Aerial (atmospheric)
perspective
Semakin jauh suatu
objek, maka objek tersebut akan terlihat semakin kabur karena partikel debu,
pasir, maupun polutan lainnya yang ada di udara. Inilah mengapa gedung yang
letaknya lebih jauh terlihat lebih kabur dibanding yang lebih dekat.
e. Texture Gradient
Ketika kita
melihat suatu objek dari dekat, maka kita dapat dengan jelas melihat tekstur
dari objek tersebut. Tetapi jika dilihat dari jauh, teksturnya akan terlihat
semakin kecil dan menghilang. Prinsip ini merupakan salah satu teknik yang
digunakan oleh para seniman untuk memberi ilusi kedalaman pada lukisannya.
f. Motion Parallax
Perbedaan
pergerakan antara objek yang dekat dan objek yang jauh disebut dengan motion
parallax. Hal ini dapat dilihat ketika kita berada di dalam mobil. Objek yang
berada dekat dengan mobil seakan-akan bergerak dengan sangat cepat. Sedangkan
objek yang terletak jauh dari mobil, seperti gunung, seperti bergerak lambat.
g. Accommodation
Accommodation menjadi satu-satunya monocular cues yang tidak merupakan bagian dari pictorial cues. Accommodation berhubungan dengan sesuatu yang ada di dalam mata. Akomodasi visual adalah kecenderungan lensa mata untuk berubah bentuk atau ketebalan sebagai respon dari letak suatu objek, apakah objek tersebut.
Binocular cues
sesuai dengan namanya, yaitu membutuhkan kedua mata. Binocular cues terbagi
dua, yaitu:
a. Convergence
Merupakan salah
satu muscular cue, konvergensi mengacu pada rotasi bola mata pada rongganya
untuk fokus pada suatu objek. Jika objek yang dilihat dekat, maka konvergensi
yang terjadi akan besar. Tetapi jika benda yang dilihat jauh, maka konvergensi
yang terjadi akan lebih kecil. Konvergensi ini dapat kita rasakan dengan
memposisikan jari di depan hidung, kemudian menjaukankan dan mendekatkannya
lagi.
b. Binocular disparity : Binocular
Disparity
Binocular disparity menunjukan bahwa dikarenakan posisi mata yang berjarak satu sama lain, kedua mata manusia tidak melihat gambar yang sama persis. Jika gambar yang dilihat mata sangat berbeda, maka objek terletak sangat dekat dari mata. Sebaliknya, jika gambar yang terlihat oleh mata sama, maka objek terletak jauh dari mata dan disparitas retina kecil
Ilusi
Ilusi adalah
persepsi yang tidak berkorespondensi dengan realita, dengan kata lain apa yang
dipikirkan dengan kenyataan yang terjadi berbeda. Ilusi juga dapat disebut
sebagai stimulus visual yang 'mengelabui' mata. Walaupun demikian, ilusi dapat
berguna dalam penelitian baik bagi para psikolog maupun ahli saraf. Eagleman
(2001) dan Macknik, dkk. (2008) mengatakan bahwa ilusi terkadang berasal dari
proses sensorik awal, pemrosesan lanjutan, atau asumsi tingkat tinggi oleh
sistem visual otak.
Komentar
Posting Komentar