Rangkuman Materi pertemuan ke-10 Psikologi Umum

 Pengaruh Darwin dan Tumbuhnya Tes Mental

Teori Evolusi Darwin

Darwin menuliskan kata “Seleksi Alam” sebagai mekanisme evolusioner.
Mekanisme evolusioner ini disebut survival of fittest.
Berikut mekanisme evolusioner:
1. Anggota populasi yang memiliki keragaman sifat melewati proses seleksi
alam di lingkungan yang tidak mendukung.
2. Anggota populasi yang mampu beradaptasi akan mampu melakukan
reproduksi dengan membawa sifat yang unggul dari anggota lainya.
3. Dengan berjalannya waktu Anggota populasi yang mampu beradaptasi
akan bertambah dan yang tidak mampu beradaptasi akan punah.
Charles Darwin percaya bahwa evolusi terjadi begitu saja, tidak
mempunyai arah dan tujuan. Jika lingkungan berubah maka makhluk hidup
juga akan berubah (beradaptasi) dan ini berlangsung selamanya.

Pengaruh Darwin Dalam Psikologi

Buku Darwin yang paling mendekati dunia psikologi adalah The Expression
of Emotions in Man and Animals (1872/1988) dimana bisa diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1) Emosi manusia adalah sisa-sisa dari emosi hewan yang dibutuhkan untuk
bertahan hidup. Seiring berjalannya waktu, emosi yang dimiliki manusia
tidak seganas emosi hewan. Tapi jika dalam keadaan marah, emosi
manusia tadi bisa menjadi kacau dan jadi ganas seperti emosi hewan.
2) Emosi manusia bersifat universal dan semua orang memiliki cara yang
mirip atau bahkan sama dalam mengekspresikannya.
3) Dengan terpaksa, dia menyimpulkan kalau perbedaan manusia dengan
hewan hanya pada tingkatan.
4) Darwin juga menyimpulkan kalau semua refleks dan kemampuan
bergerak itu muncul seiring dengan kemampuan belajar.

Tes Mental oleh Sir Francis Galton

Pada tahun 1853, ia menerbitkan bukunya yang berjudul Narrative of an
Explorer in Tropical South Africa. beberapa teori yang dicetuskan di buku
tersebut adalah :
1.Eugenics
Galton berpikir dengan menyatukan pasangan yang satunya “cerah”
dengan yang satunya lagi “kurang cerah” maka akan menghasilkan
keturunan dengan kecerdasan yang lebih baik.
2.Antropometry
Dalam waktu satu tahun Galton meneliti 9.337 dengan caranya, seperti
mengukur kepala, rentang tangan, tinggi duduk, panjang jari tengah, berat
badan, dan 6 lain-lain. Ia percaya ukuran kepala berpengaruh dengan
besar otak, ukuran tersebut juga berhubungan dengan kecerdasan
seseorang. Galton juga meneliti jika kemampuan mental dapat
diwariskan/ diturunkan kemudian adanya perbedaan individual pada
kapasitas individu.

Kontribusi Galton Pada Psikologi

Kontribusi Galton dalam psikologi adalah melakukan beberapa penelitian.
Penelitian Galton mencakup beberapa studi yaitu:
1.The Word-Association Test
2.Studi tentang pertanyaan alam-pengasuhan (the nature–nurture question)
3.Studi tentang penggunaan kuesioner
4.Studi tentang penggunaan tes asosiasi kata
5.Studi kembar (twin studies)
6.Studi tentang citra (study of imagery)
7.Mental Imagery

Pengukuran Kecerdasan Galton

Galton berasumsi kecerdasan manusia bisa di pengaruhi dari orang tua.
Galton mulai membandingkan antara keturunan negarawan, sastrawan,
ilmuwan, musisi, dan pelukis dengan keturunan masyarakat biasa.
• Galton melakukan pengukuran kecerdasan dengan semua cara yang bisa
dia pikirkan. Dia mengukur ukuran kepala, rentang lengan, tinggi badan,
tinggi duduk, panjang jari tengah, berat badan, kekuatan remasan tangan,
kapasitas pernapasan, ketajaman penglihatan, ketajaman pendengaran,
waktu reaksi terhadap visual dan pendengaran rangsangan, nada
pendengaran tertinggi yang dapat dideteksi, dan kecepatan pukulan
(kecepatan memukul pad).
• Galton percaya bahwa ketajaman sensorik individu itu berhubungan
dengan kecerdasan dari individu itu sendiri.
• Galton juga percaya bahwa semakin besar ukuran kepala (ukuran
tengkorak) seseorang maka semakin cerdas orang tersebut.

Pengukuran Kecerdasan Setelah Galton

1. James Mckeen Cattell

Pada tahun 1890 Cattell menerbitkan teknik dan hasilnya dalam sebuah
artikel yang menggunakan istilah tes mental untuk pertama kalinya. Cattell
menggambarkan sepuluh tes mental yang dia yakini dapat diberikan
kepada masyarakat umum dan 50 tes yang dia yakini harus diberikan
kepada mahasiswa.
Di antara sepuluh tes adalah kekuatan tangan, ambang dua titik, jumlah
tekanan yang diperlukan untuk menyebabkan rasa sakit, kemampuan untuk
membedakan antara bobot, waktu reaksi, akurasi membagi dua garis 50
sentimeter, akurasi dalam menilai interval sepuluh detik, dan kemampuan
untuk mengingat serangkaian huruf.
Secara tersirat, tes yang dibuat oleh Cattell ini mempunyai asumsi bahwa
angka yang ada di tes ini mengukur hal yang sama (intelejensi), maka
performa seseorang dalam tes ini seharusnya memiliki hubungan yang kuat
dengan tingkat intelejensi orang tersebut.

2. ALFRED BINET

Binet lahir pada 11 Juli di Nice, Prancis. Pada Tahun 1891 Binet bergabung dengan
laboratorium psikologi fisiologis di Sorbonne, di Mana ia melakukan penelitian di bidang-bidang
seperti memori, sifat ketakutan masa kanak- Kanak, keandalan kesaksian saksi mata,
kreativitas, pemikiran tanpa gambar, dan Grafologi. Alfred Binet menciptakan tes dengan metode
lebih dalam tradisi rasionalis daripada dalam tradisi empiris.

Beberapa hasil dari pengujian tes ini yaitu:

1. Psikologi Individual

Menggunakan variabel individu yang berbeda dengan variabel yang terisolasi dan cara 12 mengukurnya tersedia, mereka berharap akan mungkin untuk ''mengevaluasi" setiap individu dalam waktu yang
relatif singkat. Menilai Kekurangan Intelektual

2. Benet melakukan penelitian bersama dengan Simon pada tahun 1904 kepada
anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus

Menurut mereka terdapat 2 langkah untuk membedakan antara anak-anak yang
normal secara intelektual dan abnormal:
a. Membedakan kelompok anak yang didiagnosis sebagai normal dan abnormal.
b. Menguji kedua kelompok dengan cara yang berbeda untuk mendapatkan hasil
yang jelas dan dapat membedakan anggota satu kelompok dengan kelompok yang
lain.

3. Skala Intelijen Binet-Simon 1905 dan Revisinya

Skala intelijen Binet-Simon adalah cara yang valid untuk membedakan antara anak-
anak normal dan anak-anak dengan kekurangan mental.
Skala 1905 terdiri dari 30 tes, 3 dari tes mengukur perkembangan motorik, dan 27
lainnya dirancang untuk mengukur kognitif.
Tes diatur dalam berbagai tingkat kesulitan sehingga semakin sering anak mengikuti tes
semakin berkembang pula kecerdasan sepenuhnya.

4. kecerdasan Quentient

 Pada tahun 1911, William Stern, seorang psikolog Jerman, memperkenalkan istilah usia mental. Bagi Stern, usia mental seorang anak ditentukan oleh penampilannya pada tes Binet–Simon. Stern juga menyarankan agar usia mental dibagi berdasarkan usia kronologis,menghasilkan kecerdasan yang quotient. Misalnya, jika anak berusia 7 tahun tertentu lulus semua tes yang biasanya lulus dengan usia 7 tahun, kecerdasannya adalah 7/7 atau 276

CHARLES SPEARMAN

Setelah karirnya berakhir di militer, Spearman beralih ke bidang Psikologi dan membaca
karya Galton. Pada tahun 1904, ia menerbitkan hasilnya dalam sebuah artikel berjudul
"'Kecerdasan Umum, Ditentukan, dan Diukur secara Objektif.” untuk menyelidiki secara lebih
menyeluruh sifat kecerdasan, Spearman meletakkan dasar untuk apa yang menjadi analisis
faktor. Analisis faktor adalah teknik statistik yang kompleks berdasarkan korelasi. Teknik ini
dimulai dengan mengukur individu atau sekelompok individu dalam berbagai cara.
Menurut Spearman, kecerdasan dapat dijelaskan dengan 2 faktor :
a) Faktor Spesifik (s), adalah faktor yang mencakup perbedaan individu dalam matematika,
Bahasa, dan musik.
b) Faktor Umum (g), adalah faktor yang ditentukan berdasarkan pewarisan orang tua.
Kesimpulan Spearman mengenai kecerdasan adalah:
(1) Dia menekankan sifat kesatuan kecerdasan, sedangkan Binet menekankan
keragamannya.
(2) Ia memandang kecerdasan sebagai sebagian besar diwariskan, sedangkan Binet
memandangnya sebagai hal yang dapat dimodifikasi oleh pengalaman.
(3) Sebagian besar konsepsi Spearman tentang kecerdasan yang dianut oleh gerakan
pengujian baru di Amerika Serikat, bukan binet.

CYRIL BURT

Burt percaya bahwa pendidikan harus dikelompokkan menurut kecerdasan asli siswa. Burt
mengajarkan kita lebih banyak tentang politik sains daripada tentang sifat kecerdasan. Di
antara pendukung Burt adalah mereka yang percaya bahwa heritabilitas kecerdasan yang
tinggi telah terbukti secara ilmiah dan fakta ini memiliki, atau seharusnya memiliki, implikasi
dari kebijakan sosial dan pendidikan.



Komentar